Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

Februari 3, 2023

rakyat62.id – El classico Indonesia Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan , Malang yang berlangsung pada Sabtu, 1 Oktober 2022 berakhir dengan skor 2-3.

Diduga tak terima karena tim kesayangannya kalah oleh rival bebuyutan, Aremania turun ke lapangan.

Aparat keamanan kemudian menembakkan gas air mata ke tribun yang menyebabkan para penonton panik dan saling berdesakan untuk keluar dari stadion.

Saat gas air mata ditembakkan, pintu stadion belum terbuka. Hal ini membuat banyak penonton yang terinjak-injak dan mengalami sesak napas.

Sebanyak 187 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka berat maupun ringan. Sebagian suporter tewas karena kekurangan oksigen dan terinjak-injak saat berhamburan menuju pintu keluar.

Para korban dirawat di RSUD Kanjuruhan , RS Wava Husada, Klinik Teja Husada, RSUD Saiful Anwar, RSI Gondanglegi, RSU Wajak Husada, RSB Hasta Husada, dan RSUD Mitra Delima.

Kerusuhan ini merupakan tragedi terbesar kedua dalam sejarah sepak bola dunia. Tragedi terbesar pertama terjadi pada 24 Mei 1964 yang menewaskan 325 orang pada laga Peru vs Argentina.

Menurut Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, aparat keamanan mengimbau panitia pelaksana supaya laga digelar pada sore hari.

Akan tetapi, Mahfud MD berujar bahwa panitia pelaksana BRI Liga 1 tak mengindahkan himbauan tersebut. BRI Liga 1 dihentikan selama satu pekan.

Sama dengan tragedi Kanjuruhan , polisi setempat juga menembakkan gas air mata untuk meredam kerusuhan.

Di sisi lain, penyanyi senior Iwan Fals mengunggah foto kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan , Malang melalui akun Twitternya.

“Gas air mata, polisi, tentara, dan pentungan,” tulis Iwan Fals .

Terkenal suka menyanyikan lagu yang terinspirasi dari isu-isu yang ada, membuat mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meminta Iwan Fals untuk menyanyikan lagu bertema tuntutan kejujuran pada kasus ini.

Nyanyikan duka mereka, nyanyikan kejujuran yg mereka mohonkan. Tangis dan duka tidak mengurangi duka mereka

Berikanlah kejujuran angka dan siapa untuk mereka bisa percaya dan kenang. Percaya itu bisa menjadikan penghiburan dan pegangan bagi hati yg duka. Nyanyikan tuntutan kejujuran ,” kata Susi Pudjiastuti di kolom komentar.***