Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

Oktober 3, 2022

rakyat62.id – Taiwan menegaskan akan mempraktikkan haknya mempertahankan diri dan melancarkan ‘serangan balasan’ jika Angkatan Bersenjata China nekat memasuki wilayahnya. Penegasan itu disampaikan saat Beijing meningkatkan aktivitas militernya di dekat wilayah Taiwan.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (31/8/2022), para pejabat pertahanan Taiwan mengatakan bahwa patroli militer China dengan ‘intensitas tinggi’ di dekat Taiwan terus berlanjut dan niat Beijing untuk menjadikan Selat Taiwan sebagai ‘laut dalam’ akan menjadi sumber utama ketidakstabilan di kawasan.

“Untuk pesawat-pesawat dan kapal-kapal yang memasuki wilayah laut dan udara kami sejauh 12 mil laut, militer nasional akan mempraktikkan hak untuk mempertahankan diri dan melancarkan serangan balasan tanpa pengecualian,” tegas wakil kepala staf jenderal untuk operasional dan perencanaan Taiwan, Lin Wen-Huang, kepada wartawan dalam konferensi pers.

Taiwan telah mengeluhkan drone-drone China yang berulang kali mengudara hingga ke dekat gugusan pulau kecil dekat pantai China.

Ditambahkan Lin dalam pernyataannya bahwa militer Taiwan akan mempraktikkan hak yang sama untuk ‘menyerang balik’ terhadap drone-drone China yang tidak mematuhi peringatan untuk meninggalkan wilayah Taiwan setelah memberikan ancaman.

Taiwan melepaskan tembakan peringatan ke arah sebuah drone China yang mengudara di dekat sebuah pulau kecil yang dikuasai Taipei pada Selasa (30/8) waktu setempat. Itu menjadi momen pertama kalinya tembakan peringatan dilepaskan ketika ketegangan meningkat antara Taiwan dan China yang bertetangga.

Tembakan peringatan dilepaskan setelah Presiden Tsai Ing-wen memerintahkan militer Taiwan untuk mengambil ‘langkah balasan kuat’ terhadap apa yang disebutnya sebagai provokasi China.

Dalam konferensi pers yang sama, direktur akademi militer Universitas Pertahanan Nasional Taiwan, Ma Cheng-Kun, menyatakan China mungkin akan bertindak lebih jauh untuk menolak kapal-kapal militer asing yang berlayar melintasi Selat Taiwan tanpa izinnya.

“Setelah status normal militer baru dikonsolidasikan, maka risiko benturan akan meningkat jika kapal Angkatan Laut asing bersikeras pada hak navigasi dan kebebasan,” sebutnya.

Kapal-kapal perang Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutu seperti Inggris dan Kanada secara rutin berlayar melintasi Selat Taiwan selama beberapa tahun terakhir, termasuk dua kapal perang Angkatan Laut AS pekan lalu.

Angkatan Bersenjata Taiwan diperlengkapi dengan baik, namun lebih kecil jika dibandingkan militer China. Presiden Tsai mengawasi program modernisasi dan meningkatkan anggaran pertahanan yang menjadi prioritas.