Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

Februari 8, 2023

rakyat62.id – Ukraina berjanji akan memperkuat angkatan bersenjata setelah Rusia melancarkan serangan udara terbesarnya di kota sejak awal-awal perang.

Perang ini memaksa ribuan orang melarikan diri ke tempat lebih aman.

Pada Senin, 10 Oktober 2022 pagi hari waktu setempat, rudal menghantam persimpangan, taman, serta lokasi wisata di seluruh Ukraina yang menewaskan 14 orang dan melukai banyak orang.

Dilaporkan, ledakan terjadi di Kyiv, Lviv, Ternopil dan Zhytomyr di Ukraina barat, Dnipro dan Kremenchuk di tengah, Zaporizhzhia di selatan dan Kharkiv di timur.

Sejak hari pertama invasi pada 24 Februari 2022, rentetan rudal ditembakkan dari darat, laut, dan udara.

Presiden Rusia Vladimir Putin berujar dia memerintahkan serangan jarak jauh “besar-besaran” setelah menuduh Ukraina menyerang sebuah jembatan yang menghubungkan Rusia dengan Krimea .

Namun, Amerika Serikat menyatakan bahwa serangan tersebut kemungkinan telah direncanakan sejak lama.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berbicara dengan presiden AS Joe Biden bahwa pertahanan udara merupakan prioritas nomor satu dalam kerja sama pertahanan mereka.

“Kami akan melakukan segalanya untuk memperkuat angkatan bersenjata kami. Kami akan membuat medan perang lebih menyakitkan bagi musuh,” kata Volodymyr Zelensky dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Reuters.

Joe Biden mengatakan pada Zelensky bahwa AS akan menyediakan sistem pertahanan udara yang canggih.

Layanan darurat Ukraina melaporkan, sebanyak 14 tewas dan 97 terluka karena serangan yang dilancarkan pada jam-jam sibuk.

Menurut Zelensky, serangan pada jam-jam sibuk sengaja dilakukan untuk membunuh orang dan mematikan jaringan listrik di Ukraina .

Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal melaporkan, 11 target infrastruktur utama di delapan wilayah meninggalkan bagian Ukraina tanpa listrik. Dia berjanji untuk memulihkannya secepat mungkin.

Mencoba untuk mengakhiri pemadaman, Ukraina menghentikan ekspor listrik ke Uni Eropa.

Serangan udara Kremlin terjadi tiga hari setelah ledakan merusak jembatan yang dibangunnya setelah merebut Krimea pada 2014. Rusia menyalahkan Ukraina dan menyebut ledakan mematikan itu sebagai “terorisme”.

“Membiarkan tindakan seperti itu tanpa tanggapan sama sekali tidak mungkin,” ujar Putin.

Dia mengancam akan melancarkan lebih banyak serangan di masa depan jika Ukraina menyerang wilayah Rusia . Ukraina memandang jembatan itu sebagai target militer yang menopang upaya perang Rusia .

Setelah berminggu-minggu mengalami kemunduran di medan perang, Rusia menghadapi kritik domestik pertama yang berkelanjutan terhadap perang, dengan komentator di televisi pemerintah menuntut tindakan yang lebih keras.***