Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

Januari 30, 2023

rakyat62.id – Reaksi keras diberikan Rusia setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menjanjikan sistem persenjataan udara yang canggih kepada Ukraina yang baru saja dihujani serangan rudal. Moskow mengancam AS bahwa pasokan lebih banyak senjata ke Ukraina bisa memicu eskalasi perang lebih lanjut.

“Kami menyerukan kepada Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya untuk tidak melanggar ‘garis merah’ yang telah mereka dekati,” ucap Duta Besar (Dubes) Rusia untuk AS Anatoly Antonov dalam pernyataannya, seperti dilansir CNN, Selasa (11/10/2022).

“Berhenti menggenjot rezim Kiev dengan senjata mematikan. Itu hanya akan memicu korban-korban baru dan kehancuran, juga memperpanjang konflik lebih lanjut,” imbuhnya.

Sebelumnya, Biden menjanjikan sistem pertahanan rudal canggih kepada Presiden Volodymyr Zelensky setelah rentetan rudal Rusia menghujani berbagai wilayah Ukraina. Janji itu disampaikan Biden saat berbicara via telepon dengan Zelensky pada Senin (10/10) waktu setempat.

Dalam percakapan telepon itu, Biden juga memberikan jaminan untuk dukungan berkelanjutan AS dan mengecam serangan Rusia yang mengenai target-target sipil sebagai ‘serangan tidak masuk akal’.

“Presiden Biden berjanji untuk terus memberikan dukungan yang diperlukan kepada Ukraina untuk mempertahankan diri, termasuk sistem pertahanan udara canggih,” demikian pernyataan Gedung Putih membahas soal percakapan telepon Biden dan Zelensky, seperti dilansir Reuters.

Pernyataan Gedung Putih tidak menjelaskan lebih lanjut soal detail sistem pertahanan udara canggih yang dibahas oleh Biden dan Zelensky. Namun diketahui AS sebelumnya berkomitmen memberikan pasokan Sistem Rudal Permukaan-ke-Udara Canggih Nasional (NASAMS) yang mampu menghantam rudal jelajah Rusia.

Antonov dalam pernyataannya menyebut niat pemerintahan Biden untuk terus mendukung Zelensky akan ‘mengarah pada eskalasi lebih lanjut’ dan meningkatkan risiko bentrokan Rusia dengan aliansi NATO.

AS telah memberikan bantuan keamanan senilai total lebih dari US$ 16,8 miliar (Rp 257,7 triliun) kepada Ukraina, sejak Rusia melancarkan invasinya pada 24 Februari lalu.

AS dan negara-negara Barat lainnya juga menjatuhkan serangkaian sanksi ekonomi terhadap Moskow terkait tindakan negara itu di Ukraina.