Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

Februari 4, 2023

rakyat62.id – Otoritas Israel dilaporkan saat ini tengah menahan nyaris 800 warga Palestina tanpa persidangan maupun dakwaan. Angka itu tercatat sebagai jumlah tertinggi sejak 2008 lalu untuk warga Palestina yang ditahan Israel.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (3/10/2022), angka itu dilaporkan oleh kelompok hak asasi manusia (HAM) Israel, HaMoked, yang secara rutin mengumpulkan jumlah warga Palestina yang ditahan dari otoritas penjara Israel.

Menurut HaMoked dalam laporan terbaru pada Minggu (2/10) waktu setempat, sedikitnya 798 warga Palestina saat ini ditahan dalam apa yang disebut sebagai penahanan administratif Israel.

Penahanan administratif Israel merupakan praktik di mana para tahanan ditahan selama berbulan-bulan tanpa mengetahui dakwaan yang dijeratkan kepada mereka, juga tidak mendapatkan akses terhadap bukti-bukti yang menjadi dasar penahanan mereka.

Menurut HaMoked, jumlah orang yang ditahan dalam penahanan administratif Israel meningkat secara stabil sepanjang tahun ini. Hal itu disebabkan oleh operasi penggerebekan pada malam hari yang semakin kerap digelar Israel di wilayah Tepi Barat yang diduduki, untuk merespons rentetan serangan terhadap warganya.

Israel mengklaim pihaknya menggunakan penahanan administratif untuk mencegah serangan dan menahan para militan berbahaya tanpa mengungkapkan intelijen sensitif. Kelompok-kelompok HAM dan warga Palestina menyebutnya sebagai sistem kejam yang menyangkal kebebasan tanpa proses peradilan jelas.

Praktik penahanan administratif membuat beberapa warga Palestina bisa ditahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun tanpa dakwaan atau tanpa akses terhadap bukti yang memberatkan mereka. Beberapa warga Palestina itu bahkan nekat menggelar aksi mogok makan yang mengancam nyawa demi menarik perhatian soal penahanan yang tidak adil, yang kerap meningkatkan ketegangan antara Israel dan Palestina.

“Penahanan administratif seharusnya menjadi tindakan yang luar biasa, tapi Israel memanfaatkan penahanan tanpa persidangan secara besar-besaran,” ujar direktur eksekutif HaMoked, Jessica Montell.

“Ini harus dihentikan. Jika Israel tidak membawa mereka ke pengadilan, Israel harus membebaskan semua tahanan administratif,” cetus Montell.

HaMoked menyebut jumlah yang dilaporkan itu menjadi puncak baru dalam gelombang penahanan administratif, menyusul rentetan serangan oleh warga Palestina terhadap warga Palestina, yang menewaskan total 19 orang.

Rentetan serangan itu memicu operasi penggerebekan oleh Israel yang kerap berujung bentrokan hingga menewaskan sedikitnya 100 warga Palestina, yang kebanyakan disebut sebagai militan, namun ada juga kaum muda setempat.

Militer Israel menyebut sekitar 1.500 warga Palestina ditangkap dalam penggerebekan dan bentrokan itu, termasuk mereka yang ditahan dalam penahanan administratif. Disebutkan Israel bahwa penggerebekan itu diperlukan untuk membongkar jaringan militan dan menggagalkan serangan terhadap warga Israel.

Namun Palestina menyebut penggerebekan itu dimaksudkan untuk mempertahankan kekuasaan militer Israel atas wilayah yang diduduki selama 55 tahun itu.