Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

Februari 3, 2023

rakyat62.id – Studi terbaru yang dilakukan oleh peneliti Harvard Medical School di Brigham dan Women’s Hospital di Boston, Massachusetts , Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa makan saat larut malam meningkatkan rasa lapar dan mengurangi pembakaran kalori.

Selain itu, kebiasaan tersebut dapat mengubah metabolisme orang dewasa yang kelebihan berat badan atau obesitas serta meningkatkan lemak tubuh.

Sekitar 42 persen orang dewasa di AS mengalami obesitas yang menyebabkan mereka berisiko terkena penyakit kronis seperti diabetes, kanker, dan kondisi kesehatan lainnya.

Saat ini Eropa juga sedang mengalami masalah serupa.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 59 persen warga Eropa mengalami kelebihan berat badan atau obesitas , termasuk 8 persen anak balita.

Dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Euro News, dalam laporan yang diterbitkan pada Mei 2022, WHO menemukan bahwa obesitas menyebabkan 200.000 kasus kanker dan 1,2 juta kematian setiap tahunnya di Eropa.

Di seluruh dunia, sekitar 650 juta orang dewasa diperkirakan mengalami obesitas .

Apa kaitan antara makan terlambat dengan peningkatan risiko obesitas ?Ada banyak diet yang merekomendasikan puasa setelah jam 6 atau 7 malam, tetapi belum ada penelitian yang menemukan efek buruk dari makan terlalu malam .

Kita tahu bahwa ngemil atau makan saat tengah malam itu buruk, tetapi tidak tahu persis mengapa.

Sekarang, setelah adanya studi dari para ilmuwan di Boston, kita jadi memiliki gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana ngemil terlalu larut malam memengaruhi nafsu makan, pengeluaran energi, dan jaringan lemak.

Para peneliti mempelajari 16 pasien yang dianggap mengalami kelebihan berat badan atau obesitas yang diminta untuk mengikuti dua protokol.

Pada protokol pertama, para pasien dijadwalkan makan lebih awal.

Pada protokol kedua, para pasien akan dijadwalkan makan empat jam lebih lama dari protokol pertama, namun dengan menu yang sama.

Ternyata penundaan makan selama empat jam tersebut membuat perbedaan besar.

Dalam 24 jam setelah makan saat larut malam, pasien menunjukkan tingkat leptin yang lebih rendah.

Leptin adalah hormon yang mengendalikan nafsu makan dengan memberi sinyal sudah kenyang ke otak.

Selain itu, pembakaran kalori para pasien tercatat lebih lambat dan lemak tubuh cenderung meningkat.

Detail mengenai penelitian ini dipublikasikan di jurnal Cell Metabolism.

Selain memberi tahu para peneliti tentang tingkat nafsu makan mereka, pasien juga memberikan sampel darah mereka sepanjang hari, mengukur suhu tubuh dan pengeluaran energi mereka, dan beberapa bahkan melakukan biopsi pada jaringan adiposa mereka.

Memang sangat menyenangkan menikmati camilan saat tengah malam dan beberapa dari kita yang bekerja lembur mungkin tidak bisa makan malam lebih cepat.

Namun, kini kita tahu bahaya yang mengintai dan harga yang harus dibayar dari kenikmatan surgawi di tengah malam tersebut.***