Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

Februari 4, 2023

rakyat62.id – Sejarah celana jeans berawal di tahun 1.800-an sebelum akhirnya sekarang menjadi item favorit semua kalangan.

Bawahan ini tidak lagi hanya dipakai oleh koboi atau pekerja kasar namun juga sosialita, para artis hingga pejabat.

Padu padannya juga tidak hanya sekedar kaus yang nyaman namun juga kemeja, blus, dan atasan beragam bahan.

Sejarah celana jeans

Kata ‘jean’ muncul di tahun 1.800-an yang merujuk pada kain katun twill yang digunakan untuk celana panjang.

Kain ini pula yang kemudian dipakai sebagai bahan jeans biru, kini dikenal sebagai denim , dan diproduksi di Kota Nimes, Perancis.

Masih banyak perdebatan apakah kata ‘denim’ adalah versi bahasa Inggris dari tekstil Prancis atau sekedar nama asing yang diberikan pada produk lama untuk meningkatkan gengsi.

Namun celana jeans klasik yang paling dikenal saat ini, terbuat dari denim celup indigo, dengan saku paku yang kaku dan kokoh, dipatenkan di tahun 1873.

Jacob Davis, seorang penjahit, dan Levi Strauss , pemilik kain grosir rumah di San Fransisco menjadi orang yang pertama kali mengajukan hak tersebut.

Awalnya, jeans dianggap cocok untuk para penambang dan koboi karena paku tembaga di bagian kantongnya.

Fitur tersebut memperkuat kantong celana tersebut yang biasanya mudah robek saat dipakai bekerja.

Strauss dan Davis awalnya membuat jeans dalam dua jenis kain, brown duck dan blue denim namun variasi denim akhirnya lebih diminati setelah kehadiran model 501 di tahun 1890.

Selama dekade ini pula, sejumlah perbaikan desain celana jeans dimunculkan seperti loop sabuk di tahun 1922 dan risleting dengan beragam gaya tahun 1954.

Levi Strauss juga menambahkan jahitan oranye lengkung ganda untuk lebih menguatkan celana tersebut sekaligus identitas produknya.

Paten yang dimiliki kedua pengusaha itu kemudian berakhir di tahun 1890 sehingga banyak produsen lain bebas untuk membuatnya pula.

Setelah ini, muncul berbagai merek celana jeans lainnya termasuk Wrangler dan Lee Union-Alls yang jadi favorit tentara di Perang Dunia I.

Diromantisasi para aktor Hollywood

Terlepas dari kekuatan tekstilnya, popularitas celana jeans meningkat ketika para aktor Hollywood mengenakannya.

John Wayne dan Gary Cooper, aktor yang biasa memerankan koboi tampan di film, sering memakainya di akhir pekan mereka sehingga menambahkan unsur glamor.

Sedangkan aktris seperti Ginger Rogers dan Carole Lombard menjadikan celana jeans yang juga cocok dipakai wanita, bukan hanya pria.

Majalah mode kenamaan, Vogue lalu menyebut menyebut jeans sebagai “Western chic” yang membuatnya langsung diterima dunia fashion saat itu.

Pada tahun 1950-an, celana jeans identik dengan pemuda pemberontak dan anti kemapanan karena sering dipakai Marlon Brando dan James Dean.

Pakaian ini juga kental dengan daya tarik seks dan sosok maskulin yang kuat karena dipakai oleh bintang rock’n’roll.

Sedangkan di tahun 1960-1970, busana ini dipakai sebagai oleh kaum hippies, simbol dukungan pada kelas pekerja dan protes anti-perang.

Para wanita dan pejuang kesetaraan gender juga mengenakannya namun dengan pilihan celana jeans biru lebih muda.

Maknanya semakin berkembang di tahun-tahun berikutnya, begitu pula penggemar dan variasi modelnya.

Sejarah celana jeans makin berkembang ketika sukses memasuki kalangan fashion kelas atas di akhir tahun 1970-an.

Momen itu ditandai dengan munculnya Jeans Buffalo 70 Fiorucci yang berpotongan ketat, gelap, mahal, dan sulit dibeli anak muda, berkebalikan dari awal kemunculannya.

Calvin Klein menjadi desainer pertama yang menghadirkan celana jeans di catwalk pada tahun 1976.

Aksinya tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga dipasarkan dengan mempertimbangkan citra yang lebih menarik.

Brand ini menggaet Brooke Shields untuk iklan produk celana jeans yang provokatif di tahun 1980-an menjadikannya pilihan busana untuk tampil lebih seksi dan sensual.

Pada 1990-an, rumah mode seperti Versace, Dolce & Gabbana dan Dior akhirnya tak ragu melakukan hal serupa dengan merilis celana jeans.

Saat ini, hampir semua label mewah dan desainer mode kelas atas telah merilis produk jeans masing-masing dengan harga, gaya, warna yang bervariasi.

Busana ini kaya akan makna dan disukai oleh semua kalangan, tanpa terkecuali, seperti yang disampaikan oleh Yves Saint Laurent dalam wawancara dengan New York Magazine pada November 1983

“ Celana jeans memiliki ekspresi, kesopanan, daya tarik seks, kesederhanaan — semua yang saya harapkan dalam pakaian saya,” katanya.