Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

Oktober 2, 2022

rakyat62.id – Istilah quiet quitting belakangan meramaikan media sosial karena dianggap sebagai fenomena anak muda di dunia profesional saat ini.

Quiet quitting artinya melakukan pekerjaan seperlunya sesuai dengan yang diminta atasan maupun kantor , tidak lebih.

Perilaku ini termasuk tetap masuk kantor dengan tepat waktu dan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh atasan namun semuanya dalam batas minimal.

Tidak ada kemungkinan untuk lembur atau memeriksa pekerjaan di luar jam kantor atau komitmen lebih lainnya.

Artinya, tidak ada upaya untuk membuat kinerja kita di kantor menjadi istimewa atau berlebihan karena ‘kesetian’ pada pekerjaan.

Fenomena quiet quitting ini dianggap sebagai perlawanan atas Hustle Culture yakni pola kerja berlebihan untuk mencapai kesuksesan.

Quiet quitting demi wujudkan work life balance

Fenomena quiet quitting muncul karena perubahan pola pikir yang dialami para pekerja muda selama pandemi Covid-19.

Hal ini khususnya dipengaruhi dengan dengan perubahan budaya tempat kerja termasuk dengan adanya sistem Work From Home (WFH) maupun hybrid.

Selama pandemi pula, semakin banyak pekerja muda merasa tidak mendapatkan pengakuan dan kompensasi dari kantornya karena bekerja ekstra.

Akibatnya, muncul sikap untuk menolak bekerja terlalu keras sehingga kelelahan hanya demi pekerjaannya.

Perilaku quiet quitting kemudian berfokus pada menciptakan work life balance, kesejahteraan diri fisik maupun emosional dan hanya bekerja sesuai ongkos.

Jaya Dass, direktur pelaksana Randstad, perusahaan HRD, untuk Singapura dan Malaysia menilai fenomena ini sebagai bentuk para pekerja yang kini merasa lebih berdaya untuk mengendalikan pekerjaan dan kehidupan pribadinya.

“Apa yang dulunya merupakan tantangan pasif agresif dari work life balance sekarang menjadi permintaan yang sangat langsung,” katanya.

“Itu bukan permintaan lagi. Ini adalah permintaan,” tandasnya.

Perilaku ini juga menjadi opsi paling masuk akal bagi orang yang tidak bisa begitu saja berhenti dari pekerjaannya meskipun tidak menyukainya.

“Jika tidak ada yang meminta Anda untuk berhenti, mengapa tidak melakukan lebih sedikit secara default dan lolos begitu saja? ” tambah Jass.

Quiet quitting juga bisa datang dari rasa putus asa yang muncul dengan kondisi saat ini termasuk inflasi yang meningkat, biaya hidup tinggi dan pendapatan yang tidak ideal.

Dampak buruk yang harus dipertimbangkan

Pattie Ehsaei, pakar perilaku di tempat kerja asal Los Angeles menilai quiet quitting ini tidak sepenuhnya memberikan pengaruh baik, khususnya untuk pencapaian profesional kita.

Quiet quitting adalah melakukan hal minimum yang diperlukan dari Anda di tempat kerja dan puas dengan keadaan biasa-biasa saja,” katanya.

“Kemajuan dan kenaikan gaji akan diberikan kepada mereka yang tingkat usahanya menjamin kemajuan, dan melakukan yang paling minimum tentu saja tidak,” tambahnya.

Kelsey Wat, seorang career coach, menambahkan jika perilaku ini bisa secara bertahap menghilangkan investasi emosional apa pun yang kita miliki terhadap pekerjaan.

Padahal sebagian besar dari kita menghabiskan begitu banyak waktu di tempat kerja, dalam kesehariannya.

“Sebagian besar dari kita ingin bangga dengan pekerjaan yang kita lakukan dan kontribusi yang kita buat,” katanya.

“Kita ingin melihat dampak kita dan merasa senang dengan hal itu. Quiet quitting tidak memungkinkan untuk itu.”

Menurutnya, tetap mungkin mempertahankan batasan yang sehat dan tetap berinvestasi secara emosional di tempat kerja tanpa berperilaku seperti itu.

Michael Timme, konsultan HRD, menyarankan salah satunya dengan memaksimalkan jam kerja kita di kantor agar tetap bisa mewujudkan work life balance.

Hal ini bisa menghilangkan faktor buruk dari quite quitting seperti kurangnya motivasi, keterbelakangan keterampilan, kurangnya fleksibilitas dan ketidakmampuan untuk bekerja dalam pengaturan tim.

“Dari sudut pandang kantor, quite quitting dapat menyebabkan konflik antar karyawan, karena beberapa karyawan akan merasa orang lain tidak memikul beban mereka,” tambahnya.

“Secara keseluruhan, ini dapat menjadi bumerang bagi karyawan dan juga dapat menciptakan gelombang karyawan yang tidak memadai dan terbelakang.”