Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

September 29, 2022

rakyat62.id – Komunitas Kolaborasi, kolektif Jakarta Art Movement dan Papatong Artspace menghadirkan mural bertemakan semangat kemandirian pangan yang disuarakan Wakil Presiden pertama RI Muhammad Hatta di flyover Cipinang, Jakarta Timur.

“Prestasi swasembada beras tidak seiring sejalan dengan kesejahteraan petani sebagai produsen gabah dan beras. Maka seni mural di flyover Cipinang memberi pencerahan di bulan sakral ini, mengingatkan kembali cita-cita Hatta,‘’ ucap koordinator mural dan Kurator yang bertanggungjawab dari kolektif Jakarta Art Movement Bambang Asrini dalam rilis pers, Rabu.

Mural berlatar warna biru tersebut menampilkan siluet wajah Bung Hatta serta pena dan buku bersampul “Koperasi Membangun dan Membangun Koperasi”.

Di antara gambar tersebut, tersemat tulisan “Bukti mendatangkan beras dari luar negeri itu saja adalah suatu penghinaan bagi bangsa kita yang menduduki Tanah Air yang begitu luas dan subur”, yang dikutip dari teks-teks dalam kumpulan esainya di buku bertarikh 1971 tersebut.

Teks mural itu terpampang di flyover sejajar dengan akses rel keteta api dari jalan raya di stasiun Jatinegara menuju Bekasi. Ini merupakan akhir dari tiga aktifitas mural yang dihadirkan komunitas.

Sebelumnya, mereka telah memural di flyover Klender (10/8) dan Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, (25/8). Mural-mural yang ditorehkan di dinding kota bermuara pada pernyataan Sang Proklamator.

Bambang menjelaskan bahwa pandangan Hatta pada puluhan tahun lampau menemukan kontekstualnya dalam tiga pilar ketahanan pangan, yaitu ketersediaan pangan yang berkualitas, aksesibilitas dan distribusinya dengan tata kelola yang benar, dan juga konsumsi pun pemanfaatan yang baik bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Seni mural adalah medium paling efektif ‘menghidupkan ulang’ sosok Hatta dan isu kemandirian pangan,” kata dia.

Sementara itu, pendiri Papatong Artspace, yang juga seniman Yeni Fatmawati menilai pemilihan kata-kata Bung Hatta pada mural sudah tepat, sebagai pengingat dan refleksi 77 tahun kemerdekaan Indonesia.

“Bulan kemerdekaan seharusnya menjadi momen reflektif kita semua dan 77 tahun menjadi bangsa yang baru berkomitmen untuk membangun dan saling memberi kontrol,” ujarnya.