Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

November 29, 2022

TRIBUNWOW.COM – Tersangka otak pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, Ferdy Sambo, dinilai memiliki trauma masa lalu.

Dilansir TribunWow.com, peristiwa tersebut bahkan diduga memicu munculnya kepribadian temperamental dalam diri suami Putri Candrawathi tersebut.

Hal ini dapat dibaca dari tulisan tangan Ferdy Sambo dalam suratnya yang dianalisa oleh Ahli Grafologi Tessa Sugito.

Baca juga: Seorang Polwan Menangis di Sidang Kode Etik Ferdy Sambo, Kompolnas: Suasana Tegang, Penuh Air Mata

Pemegang Certified Handwriting Analyst itu menerangkan bahwa jeda tulisan dalam surat Ferdy Sambo bisa membeberkan banyak makna.

Satu di antaranya adalah kecenderungan untuk lari dari masa lalu karena adanya trauma.

“Kalau dari sampel, kita lihat dari marjin suratnya, ada ciri-ciri juga beliau memiliki trauma atau ketakutan di masa lalunya,” terang Tessa dilansir kanal YouTube KOMPASTV, Senin (29/8/2022).

“Jadi apa pun yang terjadi di masa lalu beliau mungkin beliau berusaha menutupi atau lari dari apa pun kejadian yang sudah lampau itu.”

Dalam tulisannya, Ferdy Sambo memperlihatkan pola yang cenderung menjauhi marjin kiri kertas.

Pola tersebut menunjukkan bahwa penulis memiliki ketakutan dari insiden yang terjadi di masa lampau.

“Biasanya marjin kirinya itu lebar, jadi menjauhi marjin kiri. Kalau kita cek memang marjin kirinya kelihatan jauh dari batas kertas tepi kiri. Kelihatan lebar sekali,” terang Tessa.

“Kembali lagi, biasanya tipe-tipe penulis seperti itu ada ketakutan akan masa lalunya.”

Ferdy Sambo Lari dari Trauma Masa Lalu? Ahli: Ada Ketakutan, Picu Rasa Sensitif, Marah Meledak-ledak
Kolase ahli Grafologi Tessa Sugito (kiri) dan surat berisi tulisan Ferdy Sambo, Senin (29/8/2022). Tessa Sugito menganalisis karakter Ferdy Sambo dari tulisannya. (Tangkapan Layar YouTube KOMPASTV)

Baca juga: Penampilan Baru Putri Candrawathi Jadi Sorotan, Pakar Sebut Istri Ferdy Sambo Ketakutan

Tessa menerangkan bahwa trauma tersebut bisa menimbulkan sikap-sikap defensif seperti misalnya rasa sensitif dan temperamental yang tinggi.

“Kita cek lagi dengan thread-thread lain, dari sini kita lihat beliau ada temperamental, ada rasa sensitif. Trauma di masa lalu beliau bisa jadi trigger karateristik kenapa bisa muncul rasa sensitif, marah meledak-ledak,” beber Tessa.

Di sisi lain, dalam surat tersebut tidak ditemukan permintaan maaf untuk Brigadir J ataupun keluarganya.


Artikel ini bersumber dari wow.tribunnews.com.