Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

Februari 8, 2023

rakyat62.idIstilah “Pedofil” akhir-akhir ini diperbincangkan oleh netizen karena terdapat kabar bahwa salah satu pesohor tanah air, Kriss Hattamengaku menjalin hubungan dengan seorang anak usia 14 Tahun.

Lalu apakah yang dimaksud dengan pedofil? Bagaimana gejala pedofil yang dirasakannya?

Pedofil atau lebih tepatnya pedofilia adalah ketertarikan seksual yang berkelanjutan pada anak – anak pra pubertas.

Pedofilia pun didefinisikan sebagai fantasi, dorongan seksual atau perilaku seksual berulang yang melibatkan anak – anak pra remaja yang umumnya 13 tahun atau lebih muda setidaknya umur enam bulan.

Pedofilia rata-rata lebih sering dilakukan oleh laki-laki. Pelaku pedofilia biasanya tak hanya dilakukan oleh orang asing, melainkan juga keluarga, teman, atau kerabat korban.

Jenis kegiatan pedofilia cukup bervariasi, termasuk hanya melihat anak , membuka baju, dan menyentuh anak yang diiringi dengan melibatkan seks oral (aktivitas merangsang seksual ) dengan cara menyentuh kelamin anak atau pelaku.

Studi menunjukkan bahwa anak – anak yang merasa tidak diperhatikan atau kesepian kemungkinan terdapat risiko lebih tinggi mengalami pelecehan seksual .

Menurut , Edisi Kelima (DSM-5) terdapat beberapa kriteria yang dianggap gejala diagnosis pedofilia seperti :

Fantasi, dorongan, atau perilaku seksual yang berulang dan intens dengan anak pra remaja (umumnya berusia 13 tahun atau lebih muda) selama minimal 6 bulan.

Dorongan seksual ini telah ditindaklanjuti atau telah menyebabkan penderitaan yang signifikan atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau area penting lainnya.

Orang tersebut setidaknya berusia 16 tahun, dan setidaknya 5 tahun lebih tua dari anak yang melakukan perilaku seksual dengan orang tersebut. Ini tidak termasuk seorang individu pada masa remaja akhir yang terlibat dalam hubungan seksual berkelanjutan dengan anak berusia 12 atau 13 tahun.

Selain itu, diagnosis gangguan pedofilia harus menentukan apakah ia secara eksklusif memiliki ketertarikan pada anak – anak atau tidak, jenis kelamin yang membuat orang tersebut tertarik.

Lalu perlu diketahui apakah dorongan seksual terbatas pada anak – anak dalam keluarga orang yang mengalami gejala pedofilia tersebut.

Terdapat berbagai tantangan dalam mendiagnosis pedofilia , seseorang yang memiliki kondisi tersebut jarang mencari bantuan atau sukarela untuk konseling.

Namun seringkali diagnosis tersebut sering ditemukan setelah ditemukan kasus perilaku pedofil terjadi dan perintah dari pengadilan.

Lalu apakah pedofilia merupakan gangguan psikologis? Berdasarkan artikel dari Psychology Today, gangguan pedofilia telah diklasifikasikan sebagai diagnosis psikiatri di bawah DSM-5 sejak 1968. Ini bukan pilihan yang dibuat orang secara sadar.

Penyebab pedofilia sampai saat ini belum diketahui dengan pasti, karena masih dalam tahap penelitian.

Namun terdapat beberapa bukti bahwa pedofilia dapat diturunkan dalam keluarga, meskipun tidak jelas apakah ini berasal dari genetika atau perilaku yang dipelajari.

Riwayat pelecehan seksual pada masa kanak-kanak merupakan faktor potensial lain dalam perkembangan pedofilia , meskipun hal ini belum terbukti.

Namun dari teori psikologi model pembelajaran perilaku menunjukkan bahwa seorang anak yang menjadi korban atau pengamat dari perilaku seksual yang tidak pantas, dapat dikondisikan untuk meniru perilaku yang sama.

Orang-orang ini, yang kehilangan kontak sosial dan seksual yang normal, mungkin mencari kepuasan melalui cara-cara yang kurang dapat diterima secara sosial.

Pedofilia kemungkinan merupakan kondisi gangguan seumur hidup, tetapi gangguan tersebut menjadi unsur-unsur yang dapat berubah dari waktu ke waktu.

Termasuk kesusahan, gangguan psikososial, dan kecenderungan individu untuk bertindak berdasarkan dorongan. (Shinta Apriliyanti)***