Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

September 28, 2022

rakyat62.id – Mendidik anak agar menjadi orang sukses bisa dimulai dari usia dini. Para orang tua perlu membentuk karakter anak dengan sedemikian rupa, terutama terkait dengan pengambilan keputusan dan hal-hal penting lainnya yang kelak berguna.

Dasar ini tertuang dalam buku terbaru Margot Machol Bisnow, ‘Raising an Entrepreneur: How to Help Your Children Achieve Their Dreams’. Penulis dan pakar pengasuhan anak asal Amerika Serikat (AS) itu mewawancarai 70 orang tua yang membesarkan anak hingga menjadi orang dewasa yang sangat sukses.

Secara umum, komunikasi orangtua memainkan peran besar dalam membentuk anak di masa depan. Berikut adalah ungkapan yang tidak pernah digunakan orang tua dari anak-anak yang tumbuh menjadi orang sukses:

1. “Ayah/ibu tidak percaya kamu, jadi ayah/ibu mengecek PR kamu dan memperbaiki kalau ada yang salah.”

Semua orang tua menekankan pentingnya tanggung jawab sejak usia dini. Mereka ingin anak-anak mereka bertanggung jawab, menghadapi masalahnya sendiri, belajar dari kesalahan dan lebih percaya diri seiring bertambahnya usia.

Tapi ini bukan hanya tentang PR sekolah. John Arrow, pemilik Mutual Mobile, sebuah perusahaan teknologi terkemuka, mengaku bahwa saat dia duduk di kelas lima, dia dan teman-temannya menulis surat kabar sekolah, yang langsung habis terjual. Namun, mereka gagal melakukan pengecekan fakta.

Kepala sekolah sangat marah, dan teman-temannya mendapat masalah dengan orang tua mereka. Tetapi orang tua John tertawa dan menyuruhnya untuk memperbaiki kesalahannya.

“Mengetahui orang tua saya akan mendukung saya, bahkan ketika pihak sekolah menentang saya, membuat saya bekerja lebih keras untuk menunjukkan kepada mereka bahwa mereka sudah membuatkan keputusan yang benar karena mempercayai saya,” kata John.

2. “Ayah/ibu memberi tambahan uang saku supaya kamu bisa membeli apa pun yang kamu mau.”

Dampak negatif memanjakan anak bersumber dari kebiasaan orangtua yang memberikan semua keinginan anak. Kebiasaan ini secara tidak langsung membuat anak tidak bisa belajar tentang konsep dan sikap tanggung jawab.

Anak yang terbiasa dimanja dengan uang akan menjadi malas, tidak termotivasi, dan juga mudah marah jika keinginannya tidak terpenuhi. Pada akhirnya, mereka akan tumbuh besar tanpa kematangan emosional, dan mengalami kesulitan mengatasi masalah ketika mereka dewasa.

Yang terpenting adalah memberikan pengertian kepada anak mengenai kegunaan dari uang saku dan berikan fasilitas bagi anak untuk menabung.

3. “Tidak ada kegiatan sepulang sekolah sampai nilai kamu meningkat.”

Banyak orang tua tidak memahami keinginan dan cita-cita anak-anak mereka. Beberapa anak sebenarnya tidak punya keinginan untuk pinta dalam akademis, namun orang tua justru memaksakan kehendaknya sendiri.

Orang tua harusnya mendukung keinginan anak-anaknya. Sebab aktivitas bermain membantu anak belajar membuat permainan, aturan dan kesepakatan. Dengan begitu, anak memiliki kesempatan untuk belajar hingga mampu membuat keputusan.

4. “Ayah-ibu akan memberimu uang jika kamu mendapat nilai bagus.”

Memberi uang saat anak mendapat nilai bagus, atau merampungkan tugas sekolah lainnya, ternyata tidak disarankan. Saat orang tua hanya fokus pada prestasi dan nilai memuaskan di sekolah, potensi anak akan layu sebelum bisa berkembang.

Nilai dan prestasi di sekolah memang penting, tapi jangan lupa kalau orang tua juga perlu mendukung perkembangan berbagai aspek lain dalam kehidupan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan positif.