Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

Oktober 2, 2022

rakyat62.id – Pemerintah telah menjadikan desa sebagai salah satu poros utama pembangunan.Besaran anggaran transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) dari tahun ke tahun juga terus meningkat.

Undang-undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa menjelaskan bahwa desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setiap desa tentu memiliki potensi yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan warganya, meskipun masih ada desa yang perlu pendampingan untuk bisa menggali, menemukan dan mengembangkan potensi itu dengan baik.

Universitas Jember melalui kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) reguler periode II tahun akademik 2021/2022 dengan tema “Membangun Desa” yang memberikan tugas kepada ribuan mahasiswa untuk menggali potensi dan memberikan solusi atas masalah desa di mana mahasiswa tersebut ditempatkan.

Sebanyak 2.294 mahasiswa KKN Universitas Jember diterjunkan di 229 desa yang tersebar di beberapa kabupaten yakni di Kabupaten Bondowoso sebanyak 1.342 mahasiswa, Situbondo sebanyak 460 mahasiswa, Kabupaten Lumajang 452 mahasiswa, dan sebanyak 40 mahasiswa ditempatkan di Kabupaten Pasuruan.

Sedangkan yang diterjunkan di Kabupaten Jember lebih banyak yakni mencapai 2.480 mahasiswa yang ditempatkan di 248 desa yang tersebar di 31 kecamatan, bergabung dengan mahasiswa lain dari beberapa perguruan tinggi di Jember.

Beberapa tema KKN yang digarap oleh mahasiswa di antaranya pengembangan wirausaha dan wisata, mengolah sampah menjadi rupiah, penanganan kekerdilan (stunting), pembenahan sanitasi, membentuk desa tangguh bencana, menyosialisasikan literasi desa, serta pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk kemajuan desa.

Kuliah kerja nyata yang sudah ditempuh oleh mahasiswa semester akhir selama sebulan yang tersebar di berbagai daerah itu menghasilkan wujud kreativitas dari tiap-tiap kelompok dari tiap program studi yang berbeda, seperti produk olahan, kerajinan tangan, dan potensi lainnya. Contohnya,salah satu peserta KKN Universitas Jember, Novario Wahyu dan kawan-kawan di Desa/Kecamatan Sukosari, Kabupaten Bondowoso yang memiliki sentra tembakau.

Melihat tembakau menjadi salah satu hasil desa, maka terbit ide membuat pestisida nabati berbahan tembakau yang afkir atau rusak dengan cara pembuatan sangat sederhana. Cukup tembakau ditumbuk dan dicampur dengan sedikit detergen serta air, kemudian didiamkan hasil campuran selama semalam serta saring sebelum dipakai menyemprot tanaman.

Setelah diuji coba dan ternyata berhasil. Para mahasiswa itu kemudian memberikan sosialisasi pembuatan dan penggunaan pestisida nabati berbahan tembakau kepada petani Desa Sukosari dan sudah banyak petani yang menggunakannya.

Walaupun pemasaran masih berpusat di kalangan internal Desa Sukosari, namun mahasiswa yang KKN di desa setempat berharap inovasi itu akan mampu menggerakkan roda perekonomian desa. Apalagi pemerintah sudah mencabut subsidi beberapa jenis pupuk, sehingga bisa menjadi alternatif solusi mengatasi dampak pencabutan subsidi pupuk.

Terobosan inovasi yang tidak kalah menariknya juga dilakukan oleh mahasiswa yang KKN di Desa Mangli Wetan, Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso yang mendampingi warga desa setempat untuk membuat genteng dari ampas tebu.

Desa Mangli Wetan merupakan salah satu desa penghasil tebu yang biasanya bahan baku tebu itu dikirimkan ke Pabrik Gula Prajekan Bondowoso untuk diolah menjadi gula pasir dan biasanya ampas tebu dibuang oleh warga setempat.

M. Zachrie dan kawan-kawan melihat potensi limbah tebu untuk diolah menjadi barang yang bernilai ekonomis yakni menjadikan ampas tebu sebagai bahan pembuatan genteng.

Proses pengolahan ampas tebu menjadi genteng juga tidak terlalu rumit, yakni ampas tebu dihaluskan dan disaring untuk kemudian dicampurkan ke dalam adonan bahan pembuatan genteng dan ampas tebu diharapkan mampu mengurangi takaran semen sekaligus memperkuat struktur genteng.

Terobosan inovasi itu juga disambut baik oleh warga Desa Mangli Wetan, sehingga warga menambah penghasilan dengan mengolah limbah ampas tebu yang biasanya hanya dijadikan bahan bakar saja, namun kini bisa menjadi bahan baku membuat genteng.

Penanganan kekerdilan

Tidak hanya menggali potensi desa melalui produk unggulan dan keindahan alam desa saja, Fahrur Rozi bersama sejumlah peserta KKN Universitas Jember lainnya mencoba mengatasi sejumlah persoalan yang terjadi desa tempat mereka ditugaskan seperti penanganan kasus kekerdilan (stunting) di Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Bondowoso.

Berbagai program untuk menurunkan kasus stunting dengan ilmu dan wawasan yang sudah dimiliki oleh mahasiswa peserta KKN juga dikolaborasikan dengan pihak perangkat desa setempat, sehingga diharapkan berbagai program itu dapat membantu desa untuk menurunkan kasus kekerdilan.

Hal serupa juga dilakukan Shinta Ridziyatus bersama kawan-kawannya berusaha menanggulangi persoalan stunting sekaligus menaikkan gizi warga di Desa Tarum, Kecamatan Prajekan, Kabupaten Bondowoso melalui nugget ikan lele.

Warga desa setempat banyak yang membudidayakan ikan lele, namun hanya dijual begitu saja dan kurang memiliki nilai ekonomis tinggi, sehingga mahasiswa KKN Universitas Jember mengajak warga untuk mengolah ikan lele menjadi nugget, sebab dengan diolah menjadi nugget maka bentuk dan rasanya lebih menarik terutama bagi anak-anak.

Dengan nugget lele itu, bisa menjadi asupan gizi alternatif bagi anak-anak di Desa Tarum yang diharapkan dapat menurunkan kasus kekerdilan yang berpotensi menghambat kecerdasan anak-anak.

Beragam inovasi dan terobosan kreatif ribuan mahasiswa yang menjalankan KKN dipamerkan melalui Expo KKN Periode II 2022 yang digelar pada 27 Agustus 2022.

Kegiatan pameran digelar dalam rangka memastikan program KKNsudah berjalan dengan baik dengan memamerkan hasil inovasi dan program yang sudah dilakukan di desa seperti inovasi yang berbasis pada potensi desa dan bisa berupa solusi permasalahan yang dihadapi masyarakat desa.

Melalui pendampingan mahasiswa yang melakukan kuliah kerja nyata itu diharapkan dapat mengembangkan potensi desa, sehingga dapat menggerakkan perekonomian dan menstimulasi warga desa untuk berinovasi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan warga desa setempat.

Selain itu, pendampingan mahasiswa dalam mengatasi berbagai persoalan seperti kasus kekerdilan, memperbaiki sanitasi yang buruk, membentuk desa tangguh bencana, rendahnya literasi, teknologi informasi dan komunikasi diharapkan dapat meningkatkan kemajuan desa. Kegiatan tersebut diharapkan bisa menginspirasimasing-masing desa untuk menggali potensi yang dimiliki guna menunjang kesejahteraan masyarakatnya.