Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

Februari 3, 2023

rakyat62.id – Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) merasa kagum atas usaha bersama menekan angka impor jagung yang bisa mencapai 3,5 juta ton tiap tahunnya. Namun sekarang kata Jokowi, impor jagung jumlahnya hanya mencapai ratusan ribu ton per tahun.

“Jadi saya kagum urusan jagung. Urusan jagung itu sudah sekian tahun kita impor tiga setengah juta ton per tahun dan sudah 7 tahun ini sampai hari ini sudah anjlok impor kita tinggal 800.000 ton per tahun,” katanya dalam agenda Peluncuran Gerakan Kemitraan Inklusif untuk UMKM Naik Kelas, Jakarta, Senin (3/10/2022).

Menurut Jokowi, impor jagung turun karena didukung oleh hasil panen para petani jagung yang mampu menghasilkan 8 ton per hektar. Padahal sebelumnya produksi petani hanya mencapai 4 ton jagung per hektar.

“Karena apa? petani jagung ada yang mendampingi, petani jagung ada yang mengawal. Tadi disampaikan di depan, biasanya 1 hektar hanya 4 ton, sekarang 1 hektar bisa 8 ton. Ongkos produksi paling Rp 1.800, Rp 1.900 itu yang yang saya tahu saat saya ke Dompu,” kata Jokowi.

“Jualnya bisa Rp 3.800 per kilo, untungnya sudah 100 persen. Ini jangan hanya di jagung saja, harusnya produk-produk yang lain, komoditas yang lain harus didampingi dengan pola yang sama. Kalau jagung bisa mestinya padi bisa, singkong bisa, poram juga bisa, kopi juga bisa dan itu jadi tugas perusahaan-perusahaan besar kita,” sambungnya.

Selain itu, Jokowi mengingatkan kepada para pelaku usaha menengah besar untuk selalu mendampingi para UMKM di setiap daerah agar bisa produknya bisa secara global.


“Jangan sampai ada perusahaan besar di satu daerah, pabriknya kelihatan tinggi-tinggi dan besar sekali, lingkungannya miskin, hati-hati. Bina lingkungan itu sangat penting. warung-warungnya kumuh, kenapa tidak seperti yang di depan tadi. Ada pembinaan warung-warung sehingga penataan barangnya baik, packaging-nya juga didampingi, ini yang kita harapkan,” ujar Jokowi.

Ia menyakini hanya melalui pengusaha besar produk UMKM bisa dibenahi mulai dari kualitas hingga pengemasannya sehingga harga jualnya pun bisa tinggi.

“Pemerintah tidak mungkin melakukan itu. Yang bisa dan cepat melakukan adalah kalau ada gerakan kemitraan yang seperti pagi hari ini akan kita mulai. Ada tadi madu, biasanya dimasukkan botol dijual di pasar-pasar tapi dengan packaging yang bagus, branding nama baik, pasti harganya akan naik lipat 2 atau 3 kali,” kata Jokowi.