Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

Oktober 4, 2022

rakyat62.id – Salah satu pendiri PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir atau JNE, Djohari Zein mengatakan, sempat berniat membawa JNE untuk melepas saham ke publik atau initial publik offering (IPO). Namun, adanya perubahan sikap dari para pemegang saham membuat keinginan untuk IPO itu kandas.

“Waktu itu memang waktu bangun JNE, kemudian saya mau bangun JNE untuk IPO waktu itu tahun 2016. Kemudian ada perubahan sikap shareholders kita waktu itu tidak semuanya setuju,” katanya dalam wawancara khusus dengan detikcom seperti ditulis Selasa (30/8/2022).

Setelah, terjadilah perubahan manajemen. Djohari pun mundur dari jajaran manajemen dan memutuskan untuk jadi komisaris.

“Lalu, jadilah perusahaan itu ganti manajemen. Karena ganti manajemen, saya bilang ‘OK, saya mundur aja, saya jadi komisaris aja’. Karena waktu saya membangunnya untuk IPO, tapi kalau mereka nggak mau IPO, kan saya daripada buang-buang waktu, saya mundur dari situ karena nggak cocok dengan model bisnisnya lagi,” sambungnya.

Singkat cerita, Djohari pun ikut mendirikan perusahaan rintisan atau startup di bidang logistik dengan nama Paxel di 2017. Perusahaan ini sendiri baru saja baru saja mendapat pendanaan seri C sebesar US$ 23 juta yang ditutup pada Juni 2022.

Pendanaan pada putaran keempat ini mendapatkan dukungan dari PT Astra Digital Internasional (ADI) yang merupakan salah satu anak perusahaan PT Astra Internasional Tbk, Central Capital Ventura (BCA), MDI Ventures (Telkom), SIG, Endeavour Catalyst, FJ Labs serta PT Amsaka Investama Sejahtera.

Saat ditanya soal peluang Paxel IPO, Djohari menilai, Paxel lebih mungkin untuk melepas saham ke publik.

“Tapi kalau misalnya IPO apakah bisa terjadi, apakah kita melihat IPO harus tahun ini atau harus tahun depan, saya belum tahu harus sesuai dengan hitungannya. Kalau IPO saya rasa Paxel itu lebih mungkin karena memang model bisnisnya startup, jadi sangat besar kemungkinannya,” katanya.

Pengusaha nasional Djohari Zein memutuskan untuk ikut serta mendirikan perusahaan rintisan atau startup di bidang logistik dengan nama Paxel di tahun 2017. Padahal, sebelumnya Djohari telah sukses mendirikan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir atau JNE.

Hal itu pun menimbulkan pertanyaan. Apalagi, keduanya memiliki inti bisnis yang sama yakni logistik. Lalu, apa alasan Djohari?

Djohari menjelaskan, keinginanan membangun JNE ialah untuk melepas sahamnya ke publik atau initial public offering (IPO). Namun, kemudian terjadi perubahan sikap dari pemegang saham (shareholders) yang tidak semuanya setuju.

Hal itu pun membuatnya mundur dari jajaran manajemen JNE. Ia kemudian menduduki komisaris.

“Waktu itu memang waktu bangun JNE, kemudian saya mau bangun JNE untuk IPO waktu itu tahun 2016. Kemudian ada perubahan sikap shareholders kita waktu itu tidak semuanya setuju,” katanya.

“Lalu, jadilah perusahaan itu ganti manajemen. Karena ganti manajemen, saya bilang ‘OK, saya mundur aja, saya jadi komisaris aja’. Karena waktu saya membangunnya untuk IPO, tapi kalau mereka nggak mau IPO, kan saya daripada buang-buang waktu, saya mundur dari situ karena nggak cocok dengan model bisnisnya lagi,” sambungnya.

Hal itu pun kemudian membuatnya memiliki banyak waktu. Alhasil, ia pun bisa mendirikan startup komik, startup makanan, mendirikan yayasan hingga membangun masjid.

Meski demikian, ia tetap tak bisa benar-benar melepaskan logistik. Di tengah waktu yang luang itu, ia berpikir mengenai masalah-masalah di bidang tersebut.

“Di model bisnis itu ada macam-macam, di zaman itu bahkan mungkin belum ada aplikasi, orang kalau mau menjemput barang bisa melalui aplikasi. Waktu itu Gojek belum ada waktu di 2016. Jadi banyak hal-hal yang belum ada, sehingga saya kepikiran, iya ya di bidang logistik kita, bahkan sampai sekarang ini model-model bisnisnya masih konvensional,” terangnya.

Ia menerangkan, dalam sejumlah hal beberapa bisnis logistik masih dilakukan secara manual yang akibatnya seringkali terjadi kesalahan, serta biayanya tinggi. Dari itu, ia pun berbicara dengan rekan-rekannya untuk mencari solusi, salah satunya melalui teknologi.

“Ternyata menggunakan teknologi misalnya kita bisa menggunakan aplikasi, kita bisa mendapatkan informasi status barang dan sebagainya. Itu banyak yang akhirnya saya temukan solusi-solusinya lewat jalan-jalan itu,'” ujarnya.

Dari situ, ia memutuskan untuk membuat model baru perusahaan pengiriman. Hal itu diwujudkan dengan kehadiran Paxel.

“Sampai sekarang kita bisa lihat, mohon maaf aja kalau kita lihat operator sekarang itu modelnya nggak jauh-jauh amat, jago-jago next day delivery. Tapi di Paxel dari awal kita sudah same day delivery. Sekarang kita bicara mengenai food delivery, kita bicara mengenai frozen food dan banyak hal lagi yang kita ciptakan melalui teknologi,” ujarnya.