Rakyat62.id

Media Rakyat Kreatif dan Inovatif!

Oktober 2, 2022

rakyat62.id – Krisis ekonomi Indonesia tahun 1998 memberikan dampak yang besar pada kegiatan bisnis. Krisis ini juga memberikan dampak yang besar PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir atau JNE yang kala itu punya persoalan di arus kas.

Namun, perusahaan mengambil langkah cepat mengubah model bisnis. Alhasil, JNE berhasil selamat dan terus berkembang.

Pendiri JNE Djohari Zein bercerita, JNE berdiri tahun 1990. Awalnya, JNE fokus ke pengiriman ke luar negeri karena minimnya pemain.

“Tahun 1990 saya pertama bangun JNE karena waktu itu yang paling jago kirim ke luar negeri itu hanya Kantor Pos di zaman itu, perusahaan lokal belum ada. Makanya saya memperkenalkan perusahaan lokal yang bisa kirim kiriman ke luar negeri. Jadi makanya saya bikin JNE waktu itu,” terangnya dalam wawancara khusus, seperti ditulis Selasa (30/8/2022).

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan pengiriman untuk domestik meningkat. Namun, krisis ekonomi melanda di tahun 1998 yang berdampak pada seretnya investasi dalam negeri.

Jelasnya, model bisnis JNE saat itu ialah bussiness to bussiness (B to B). Saat krisis, banyak perusahaan mengalami kesulitan pembayaran yang akhirnya berdampak pada arus kas JNE.

“Nah corporate waktu itu juga krisis sehingga susah bayar. Akibatnya cashflow-nya susah. Maka kepikiran lah kita mendapatkan ide untuk mengubah B to B menjadi C to C,” ujarnya.

Model bisnis customer to customer (C to C) itu berbasis tunai (cash). Perubahan model bisnis inilah yang menyelamatkan JNE dari persoalan seretnya kas.

“C to C ini adalah cash basis jadi kita membuka agen-agen penjualan waktu itu di JNE, supaya orang itu bisa kirim dari counter kita bayarnya cash. Dengan kondisi cash itu maka cashflow kita bisa tertolong dengan cepat tidak tergantung pada B to B nya tadi. Model bisnisnya pun kita ubah,” paparnya.

Djohari mengaku, Al Qur’an Surat Al Ma’un menjadi sumber inspirasinya. Dia mengatakan, surat itu mengajarkan jangan sampai menjadi pendusta agama karena tidak menyayangi anak yatim dan orang miskin.

“Oleh karena itu waktu krisis 98 dan juga cashflow kita lagi problem. Solusinya apa, ya waktu itu saya bilang ya kita harus mencari cash. Salah satunya bagaimana supaya orang bisa membayar kita cash, kita membuka counter-counter, agen-agen penjualan,” ujarnya.

“Jadi mengamalkan surat Al-Ma’un, memperkenalkan bisnis orang-orang yang kena PHK dan sedang krisis, mengajak mereka berbisnis kurir, awalnya dari situ. Karena modalnya nggak terlalu besar, mulai bertumbuhlah di situ. Itu tahun 1998 berjalan sampai mungkin tahun 2000,” sambungnya.

Perubahan model bisnis ini membuat JNE terus berkembang. Hal itu juga dipacu oleh mulai berkembangnya perdagangan online.

“Jadi dominasi, JNE mendominasi pengiriman secara lewat counter itu, waktu itu tahun 2010 kita sudah mencapai revenue sekitar Rp 1 triliun satu tahun. Meledak dominasi karena semuanya mengubah berjualan, belanjanya lewat internet waktu itu,” terangnya.